Nama : Selvi Awaliyah
Nim : 11901238
Kelas : PAI 4E
Mata Kuliah : Magang 1
Aktivitas Siswa
Dalam proses pembelajaran aktivitas siswa merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan karena pada prinsipnya belajar adalah berbuat atau dikenal dengan semboyan learning by doing. Berbuat untuk mengubah tingkah laku artinya melakukan sesuatu kegiatan atau aktivitas. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas karena tanpa aktivitas proses pembelajaran tidak mungkin berlangsung dengan baik. Itulah sebabnya aktivitas siswa merupakan prinsip atau asas yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Begitu juga halnya dalam pembelajaran matematika yang sangat menuntut aktivitas siswa. Dalam pembelajaran matematika masih menunjukkan rendahnya aktivitas belajar siswa yang disebabkan oleh guru dan siswa. Guru belum menggunakan model pembelajaran yang tepat dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa pada pelajaran matematika. Guru lebih banyak menjelaskan materi pelajaran kepada siswa daripada mengikutsertakan siswa dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran jadi membosankan. Akibatnya banyak siswa kurang memahami materi pelajaran yang diberikan. Selain dari itu, banyak siswa yang beranggapan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit karena mempelajari ide-ide atau konsep yang bersifat abstrak. Dalam hal ini terlihat siswa tidak termotivasi untuk aktif saat mengikuti pembelajaran matematika di kelas.
Menurut Sampurna (2009) aktivitas adalah kegiatan, keaktifan, dan kesibukan.
Sedangkan menurut Slameto (2010) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Pembelajaran aktif adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk interaksi antar siswa maupun siswa dengan guru dalam proses pembelajaran tersebut. Menurut Sriyono, aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani atau rohani. Aktivitas siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar. Aktivitas siswa merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses belajar mengajar. Kegiatan-kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang mengarah pada proses belajar seperti bertanya, mengajukan pendapat, mengerjakan tugas–tugas, dapat menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerja sama dengan siswa lain, serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
Aktifnya siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan atau motivasi siswa untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktivan apabila ditemukan ciri–ciri perilaku seperti:
Sering bertanya kepada guru atau siswa lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, mampu menjawab pertanyaan, senang diberi tugas belajar, dan lain sebagainya. Semua ciri perilaku tersebut pada dasarnya dapat ditinjau dari dua segi yaitu segi proses dan dari segi hasil.
Menurut Bonwell (1995), pembelajaran aktif memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut.
a. Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh pengajar melainkan pada pengembangan ketrampilan pemikiran analitis dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas,
b. Siswa tidak hanya mendengarkan kuliah secara pasif tetapi mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi kuliah,
c. Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap berkenaan dengan materi kuliah,
d. Siswa lebih banyak dituntut untuk berpikir kritis, menganalisa dan melakukan evaluasi,
e. Umpan-balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses pembelajaran.
Menurut Streibel, aktivitas belajar siswa terutama di kelas lebih ditekankan kepada interaksi antara guru dengan siswa, antara siswa dengan siswa atau antara siswa dengan media instruksional. Aktivitas belajar siswa yang baik dapat terjadi apabila guru mengupayakan situasi dan kondisi pembelajaran yang mendukung. Upaya terebut meliputi: (a) perencanaan pembelajaran berorientasi pada kepada aktivitas siswa; (b) memuat perencanaan komunikasi tatap muka; (c) memutuskan pilihan jika terjadi suatu dilema; (d) mengembangkan situasi agar siswa terlibat dalam percakapan praktis.
Aktivitas belajar siswa selama mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas dapat dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu: (a) interaksi aktif dengan guru (avtive interaction with teacher); (b) bekerja selagi siswa duduk (working at the student’s seat); (c) partisipasi mental (mental participation)
Beberapa prinsip belajar yang harus dilakukan siswa terkait dengan aktivitas belajarnya, yaitu:
(a) persiapan belajar (pre learning preparation); (b) memotivasi diri agar aktivitas belajarnya meningkat; (c) berpartisipasi aktif (active participation); (d) pengetahuan tentang hasil belajar.
Selanjutnya saya akan Menjelaskan Tentang Apa Itu Kultur Sekolah ? Seperti kita ketahui bersama kalau sekolah merupakan salah satu tempat berkembangnya pewarisan kultur dari generasi ke generasi berikutnya. Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah. Kultur sekolah atau budaya sekolah merupakan kebiasaan yang sudah lama diterapkan dan dilaksanakan dalam setiap sekolah. Kebiasaan tersebut meliputi bagaimana interaksi antar siswa dan guru. Saling menghormati dan menghargai antar siswa dan guru, dengan menyapa guru ketika berpapasan dijalan atau dalam lingkungan sekolah. Memberi hormat dengan mencium tangan guru agar mempererat tali silahtuhrahmi.
Kemudian menurut Antropologi (Koentjaraningrat, 2003: 72) kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar. Ia berpendapat bahwa kultur atau kebudayaan merupakan seluruh gagasan dan rasa dan tindakan yang mencakupi hasil manusia yang telah ada dalam kehidupan bermasyarakat, kemudian dari kultur itulah patut dijadikan pembelajaran atau dipelajari dari budaya-budaya yang ada.
Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya.
Sekolah merupakan lembaga utama yang didesain untuk memeperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut (Ariefa Efianingrum, 2009: 21). Kemudian pendapat dari Ariefa Efianingrum bahwa kultur itu merupakan pandangan hidup yang harus diakui oleh suatu kelompok masyarakat baik dalam daerah atau di luar daerah karena dari suatu kultur tersebut terkandung cara berfikir, perilaku, sikap dan juga nilai-nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Maka dari itu ia berpendapat bahwa sekolah-sekolah juga harus mempunyai lembaga utama yang bertujuan untuk menyampaikan proses transmisi kultural dari generasi ke generasi lain.
Selanjutnya saya akan menjelaskan tentang Karakteristik Kultur Sekolah. Tetapi saya sebelum masuk pada bagian karakteristiknya saya akan sedikit menjelaskan tentang pentingnya kultur sekolah itu ada atau dilakukan di sekolahan-sekolahan yang memiliki budaya sendiri. Hal itu dkarenakann kultur sekolah diharapkan memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Sekolah perlu memperkecil ciri tanpa kultur anarkhis, negatif, beracun, bias dan dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang.
Kultur-kultur yang direkomendasikan Depdiknas untuk dikembangkan antara lain :
- Kultur yang terkait prestasi/kualitas :
Semangat membaca dan mencari referensi
Keterampilan siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup
Kecerdasan emosional siswa
Keterampilan komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis
Kemampuan siswa untuk berpikir obyektif dan sistematis.
- Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial :
Nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan
Nilai-nilai keterbukaan
Nilai-nilai kejujuran
Nilai-nilai semangat hidup
Nilai-nilai semangat belajar
Nilai-nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain
Nilai-nilai untuk menghargai orang lain
Nilai-nilai persatuan dan kesatuan
Nilai-nilai untuk selalu bersikap dan berprasangka positif; (j) nilai-nilai disiplin diri
Nilai-nilai tanggung jawab
Nilai-nilai kebersamaan
Nilai-nilai saling percaya dan nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 25-26).
Sedangkan menurut Jumadi (2006: 6) Keberhasilan pengembangan kultur sekolah dapat dilihat dari tanda-tanda atau indikator sesuai fokus yang dikembangkan. Beberapa indikator yang dapat dilihat antara lain adanya rasa kebersamaan dan hubungan yang sinergis diantara warga sekolah, berkurangnya pelanggaran disiplin, adanya motivasi untuk berprestasi, adanya semangat dan kegairahan dalam menjalankan tugas, dan sebagainya. Dan itu merupakan contoh untuk berkembangnya kultur sekolah yang bisa berkembang dengan pesat jika dilakukan dengan benar dan mengikuti kultur yang ada.
Selanjutnya saya akan menjelaskan tentang Identifikasi Kultur Sekolah. Kotter dalam (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 7-8) memberikan gambaran tentang budaya dengan melihat dua lapisan. Lapisan pertama sebagian dapat diamati dan sebagian tidak teramati seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacara-upacara, ritus-ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar, tanda-tanda, sopan santun, cara berpakaian, dan yang serupa dapat diamati langsung, dan hal-hal yang berada di balik yang tampak itu tidak kelihatan, tidak dapat dimaknai dengan segera.
Komentar
Posting Komentar