Kultur Sekolah

 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 

Sebelumnya perkenalkan nama saya Selvi Awaliyah (11901238) Kelas PAI 4E. Blog ini saya buat dengan tujuan memenuhi tugas Mata Kuliah Magang 1 yang di ampu oleh dosen Ibu Farninda Aditya M.Pd. 

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang Kultur Sekolah. 

Pertama-tama saya akan Menjelaskan Tentang Apa Itu Kultur Sekolah ? Seperti kita ketahui bersama kalau sekolah merupakan salah satu tempat berkembangnya pewarisan kultur dari generasi ke generasi berikutnya. Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah. Kultur sekolah atau budaya sekolah merupakan kebiasaan yang sudah lama diterapkan dan dilaksanakan dalam setiap sekolah. Kebiasaan tersebut meliputi bagaimana interaksi antar siswa dan guru. Saling menghormati dan menghargai antar siswa dan guru, dengan menyapa guru ketika berpapasan dijalan atau dalam lingkungan sekolah. Memberi hormat dengan mencium tangan guru agar mempererat tali silahtuhrahmi.

Kemudian menurut Antropologi (Koentjaraningrat, 2003:  72) kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar. Ia berpendapat bahwa kultur atau kebudayaan merupakan seluruh gagasan dan rasa dan tindakan yang mencakupi hasil manusia yang telah ada dalam kehidupan bermasyarakat, kemudian dari kultur itulah patut dijadikan pembelajaran atau dipelajari dari budaya-budaya yang ada.

Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. 

Sekolah merupakan lembaga utama yang didesain untuk memeperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut (Ariefa Efianingrum, 2009: 21). Kemudian pendapat dari Ariefa Efianingrum bahwa kultur itu merupakan pandangan hidup yang harus diakui oleh suatu kelompok masyarakat baik dalam daerah atau di luar daerah karena dari suatu kultur tersebut terkandung cara berfikir, perilaku, sikap dan juga nilai-nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Maka dari itu ia berpendapat bahwa sekolah-sekolah juga harus mempunyai lembaga utama yang bertujuan untuk menyampaikan proses transmisi kultural dari generasi ke generasi lain.

Dapat disimpulkan, kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Suatu kebudayaan juga merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai karya yang dibuat oleh manusia). 

Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama.

Jadi dalam hal ini budaya atau kultur sekolah  mempengaruhi dalam dinamika kultur sekolah yang tetap menekankan pentingnya kesatuan, stabilitas, dan harmoni sosial pada sekolah, dan realitas sosial. Budaya sekolah juga memperngaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah. Maka dari ini jugalah kultur sekolah itu sangat penting ada dalam suatu sekolahan, karena hal itu mempengaruhi tentang pelayanan sekolah dan juga menyangkut dengan harmoni sosial yang ada di sekolah-sekolah yang memiliki kultur sekolah atau kebudayaannya masing-masing.

Selanjutnya saya akan menjelaskan tentang Karakteristik Kultur Sekolah. Tetapi saya sebelum masuk pada bagian karakteristiknya saya akan sedikit menjelaskan tentang pentingnya kultur sekolah itu ada atau dilakukan di sekolahan-sekolahan yang memiliki budaya sendiri. Hal itu dkarenakann kultur sekolah diharapkan memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Sekolah perlu memperkecil ciri tanpa kultur anarkhis, negatif, beracun, bias dan dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang.

Kultur-kultur yang direkomendasikan Depdiknas untuk dikembangkan antara lain :

Kultur yang terkait prestasi/kualitas : 

Semangat membaca dan mencari referensi

Keterampilan siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup

Kecerdasan emosional siswa 

Keterampilan komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis

Kemampuan siswa untuk berpikir obyektif dan sistematis.

Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial :

Nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan

Nilai-nilai keterbukaan

Nilai-nilai kejujuran

Nilai-nilai semangat hidup

Nilai-nilai semangat belajar

Nilai-nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain

Nilai-nilai untuk menghargai orang lain 

Nilai-nilai persatuan dan kesatuan

Nilai-nilai untuk selalu bersikap dan berprasangka positif; (j) nilai-nilai disiplin diri

Nilai-nilai tanggung jawab

Nilai-nilai kebersamaan

Nilai-nilai saling percaya dan nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 25-26).


Sedangkan menurut Jumadi (2006: 6) Keberhasilan pengembangan kultur sekolah dapat dilihat dari tanda-tanda atau indikator sesuai fokus yang dikembangkan. Beberapa indikator yang dapat dilihat antara lain adanya rasa kebersamaan dan hubungan yang sinergis diantara warga sekolah, berkurangnya pelanggaran disiplin, adanya motivasi untuk berprestasi, adanya semangat dan kegairahan dalam menjalankan tugas, dan sebagainya. Dan itu merupakan contoh untuk berkembangnya kultur sekolah yang bisa berkembang dengan pesat jika dilakukan dengan benar dan mengikuti kultur yang ada.

Selanjutnya saya akan menjelaskan tentang Identifikasi Kultur Sekolah. Kotter dalam (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 7-8) memberikan gambaran tentang budaya dengan melihat dua lapisan. Lapisan pertama sebagian dapat diamati dan sebagian tidak teramati seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacara-upacara, ritus-ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar, tanda-tanda, sopan santun, cara berpakaian, dan yang serupa dapat diamati langsung, dan hal-hal yang berada di balik yang tampak itu tidak kelihatan, tidak dapat dimaknai dengan segera. 

Lapisan pertama budaya berupa norma-norma kelompok atau cara-cara tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki kelompok, umumnya sukar diubah dan biasa disebut artifak.

Lapisan kedua berupa nilai-nilai bersama yang dianut kelompok berhubungan dengan apa yang penting, baik, dan benar. Lapisan ini tidak dapat diamati karena terletak di dalam kehidupan bersama.


Lapisan pertama yang berintikan norma-norma perilaku sukar diubah, maka lapisan kedua yang berintikan nilai-nilai dan keyakinan sangat sukar diubah dan memerlukan waktu untuk mengubah. Kedua hal tersebut memiliki perbedaannya masing-masing yang dimana tergantung dari kultur sekolah yang dipakai dalam suatu sekolahan yang ada dan tergantung dari tujuan digunakannya lapisan tersebut.

Kemudian ada berpendapat dimana lapisan kultur sekolah tersebut dibagi menjadi tiga, yaitu menurut Stolp dan Smith dalam (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 8-10) membagi tiga lapisan kultur yaitu artifak di permukaan, nilai-nilai keyakinan di tengah, dan asumsi di dasar. Dimana pada pendapat tersebut pada lapisan pertama berpusat pada artifak yang ada di permukaan lapisan, kemudian lapisan kedua yang berpusat pada nilai-nilai keyakinan yang berada di tengah, dan lapisan ketiga yang berpusat pada asumsi yang berada di dasar atau lapisan dalam. Dan dari hal tersebut jugalah telah dijelaskan pada penjelasan di bawah ini :

Artifak adalah lapisan kultur sekolah yang segera dan paling mudah diamati seperti aneka hal ritual sehari-hari di sekolah, berbagai upacara, bendabenda simbolik di sekolah, dan aneka ragam kebiasaan yang berlangsung di sekolah. Keberadaan kultur ini dengan cepat dapat dirasakan ketika orang mengadakan kontak dengan suatu sekolah.

Lapisan kultur sekolah yang lebih dalam berupa nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan yang ada di sekolah. Hal ini menjadi ciri utama suatu sekolah. Sebagian berupa norma-norma perilaku yang diinginkan sekolah seperti ungkapan rajin pangkal pandai, air beriak tanda tak dalam, dan berbagai penggambaran nilai dan keyakinan lainnya.

Lapisan paling dalam kultur sekolah adalah asumsi-asumsi yaitu simbol-simbol, nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan yang tidak dapat dikenali tetapi terus menerus berdampak terhadap perilaku warga sekolah.


Yang ketiga saya akan menjelaskan tentang  Peran Kultur terhadap Peningkatan Kinerja Sekolah. Kinerja sekolah (Depdiknas, 2001 : 152) adalah prestasi yag dihasilkan dari proses atau perilaku sekolah, yang dapat dilihat dari produktivitas, efisiensi, inovasi, kualitas kehidupan kerja dan moral kerjanya. Kinerja sekolah meliputi juga kinerja siswa yaitu hasil belajar atau perilaku belajar, dalam hal ini disiplin, motivasi, daya saing dam daya kerja sama, kemampuan untuk berprakasa dan memperhitungkan resiko serta sikap pencapaian prestasi dalam persaingan. 

Menurut Zamroni (2000 : 147) mengemukakan bahwa sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek sangat berkaitan dengan mutu sekolah, yakni proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah. program aksi dilakukan untuk peningkatan kualitas tidak dapat dan tidak harus meliputi ketiga aspek pokok tersebut. Padahal selama ini secara konvensional upaya peningkatan mutu pendidikan belum dilakukan dengan sistematis (mencakup aspek ketiga tersebut). Sasaran dari upaya yang selama ini dilakukan dengan menyediakan dana bagi pelaksanaan pelatihan, penyediaan buku teks dan pengadaan fasilitas lainnya yang hanya menyentuh aspek proses belajar mengajar dan kepemimpinan atau manajemen sekolah.


Dan yang terakhir saya akan memberikan penjelasan tentang  Pengembangan Kultur untuk Meningkatkan Kinerja Siswa. Sebagaimana keberadaan siswa dalam proses belajar mengajar di sekolah mempunyai peranan yang tidak kecil dalam kelangsungan pendidikan di sekolah. Guru dapat saja mengajar meskipun tidak ada bangku, tidak ada ruang kelas, tidak ada buku dan tidak ada alat peraga. Tetapi guru tidak dapat mengajar tanpa ada siswa yang terlibat, baik langsung maupun langsung.

Upaya-upaya meningkatkan kinerja siswa pada proses pembelajaran dirinya sangatlah penting, terutama karena pada hakikatnya merekalah pemilik sekolah. sekolah dan segenap komponen lainnya disediakan untuk membantu proses belajar siswa. Siswa merupakan subsistem dari satu sistem sekolah. interaksi dari komponen-komponen yang ada di sekolah dapat menghasilkan kekuatan yang akan mempengaruhi performansi atau kinerja sekolah, baik positif maupun negatif.




SUMBER REFERENSI

Imtihan, Nurul. 2018. KULTUR SEKOLAH DAN KINERJA PESERTA DIDIK MAN YOGYAKARTA III. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam vol.6, No.2. Universitas Islam Negeri Mataram.


https://eprints.uny.ac.id/7779/3/BAB%202%20-%2008110241018.pdf

Komentar